Denganmengambil judul Kolaborasi Pembelajaran Menyenangkan dan Kontekstual di Masa Pandemi pada Rancangan Aksi Nyata Modul 1.1. Filosofi Ki Hajar Dewanrtara, saya berharap pelaksanaan pembelajaran daring/jarak jauh dijalankan untuk memberi pengalaman belajar yang bermakna, sesuai yang diharapkan oleh Bapak Pendidikan tersebut dalam filosofinya
Refleksi1. Kesimpulan. Bacaan Wadah Para Penari Tradisional Kelas 5 - Halo sobat Bloggers, Kali ini kita akan membahas menjadi Bacaan Wadah Para Penari Tradisional yang terdapat pada Buku Siswa Kelas 5 Tema 3 Subtema 3 Pembelajaran 4. Tapi sebelumnya, kita simak bersama bacaan percakapan Udin dan teman-temannya.
BagaimanaGuru Dapat Mendukung Siswa Transgender. Louise D. Hampir 1 dari 50 siswa sekolah menengah di AS adalah transgender, dan jumlah yang sangat tinggi dari para siswa transgender tersebut melaporkan merasa tidak berdaya, sedih, dan tidak aman di lingkungan sekolah mereka. Selama pandemi, beberapa undang-undang bermasalah telah disahkan
Secaraglobal, James A. Banks (-a)[17], mengidentifikasi ada lima dimensi pendidikan multikultural yang diperkirakan dapat membantu guru dalam mengimplementasikan beberapa program yang mampu merespon terhadap perbedaan pelajar (siswa), yaitu: 1. Dimensi integrasi isi/materi (content integration).
1Mengapa keragaman budaya yang dimiliki oleh para siswa di Sanggar Adinda tidak menjadi penghalang dalam mengembangkan bakat mereka? 2. Bagaimana para siswa memanfaatkan keragaman yang mereka miliki? 3.Apa manfaat dari keragaman tersebut? 4.Apa bentuk-bentuk keragaman yang dimiliki oleh para siswa Sanggar Adinda!
Untukmata pelajaran project, yakni tugas melakukan mini riset, mereka akan menggunakan teknologi untuk memperoleh banyak informasi. Mereka harus diberi kebebasan untuk memilih metode dan teknik-tekniknya, untuk mereka jalani dan pada akhirnya akan mampu menyiapkan laporan, sebagaimana para siswa atau mahasiswa yang melakukannya secara tradisional.
. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Di dalam suatu kelas tentu saja tidak hanya terdapat siswa yang punya karakter seragam namun beragam. Perbedaan karakter siswa bisa berupa dari watak siswa, sifat siswa, perihal kesukaan yang dimiliki siswa dan tingkat intelegensi anak. Dan keragaman tersebut menjadi sebuah tanggung jawab guru, bagaimana suatu proses pembelajaran bisa lancar di tengah siswa yang memiliki banyak keragaman. Dalam menjalankan suatu proses belajar di tengah keragaman tentu saja terdapat beberapa kendala. Berikut adalah beberapa contoh kendala yang diakibatkan keragaman siswa dan bagaimana sikap guru dalam menghadapi/mengatasi masalah/kendala yang terbentuk akibat keragaman ketika melakukan proses belajar mengajar dalam menghadapi keragaman dari peserta didik di dalam kelasa. Pak Yijin adalah seorang guru di SD. Pak Yijin memiliki siswa yang selalu menyendiri dan siswa tersebut memiliki karakter yang berbeda dari teman-temannya satu kelas karena sifat pendiamnya. Tugas Pak Yijin sebagai guru yaitu memberikan bimbingan dengan cara melakukan pendekatan. Langkah awal yang dapat dilakukan Pak Yijin yaitu pada saat setiap pulang sekolah, Pak Yijin menyempatkan mengajak ngobrol ketika siswa tersebut belum dijemput. Agar siswa tidak kaku, Pak Yijin mengajaknya berbicara layaknya seperti temannya, membicarakan banyak hal dari yang penting hingga hal yang lucu. Setelah beberapa hari melakukan pendekatan, Pak Yijin bisa menyimpulkan bahwa sikap pendiam siswa tersebut karena takut untuk memulai sebuah pembicaraan. Langkah selanjutnya yang harus Pak Yijin lakukan yaitu meminta teman sebangkunya untuk mengajaknya berbicara dan ketika jam istirahat Pak Yijin meminta teman sebangkunya untuk megajaknya ke kantin bersama. Ketika pulang sekolah sebelum mereka di jemput, Pak Yijin menyempatkan waktu untuk mendekati siswa tersebut dan teman sebangkunya lalu mengajak berbicara seperti membahas kartun yang mereka lihat di televisi. Sikap Pak Yijin ikut terlarut dalam pembicaraan mereka membawa dampak yaitu secara tak sadar bagi siswa tersebut untuk terbiasa berpendapat. Lalu Pak Yijin menyarankan kepada siswa yang bermasalah tersebut jika terdapat hal yang ingin dibicarakan bisa langsung menemui Pak Yijin. Apabila small circle pertemanan yang dibangun dengan teman sebangkunya sudah terbentuk tentunya siswa tersebut akan terbiasa curhat/berinteraksi dengan teman sebangkunya, selanjutnya yaitu membiasakan anak tersebut terbiasa berinteraksi. Contoh cara membiasakan siswa tersebut agar terbiasa berinteraksi yaitu melibatkan siswa tersebut dalam kegiatan lomba pada saat 17 Agustus. Langkah awal yang dilakukan Pak Yijin yaitu membentuk kelompok siswa untuk mengikuti lomba yang melibatkan tim/kelompok seperti bermain bola basket yang membutuhkan kekompakan dan interaksi sesama anggota lalu Pak Yijin mengikutsertakan siswa tersebut ke dalam tim lomba. Dari beberapa tahap bimbingan yang dilakukan Pak Yijin, siswa tersebut akan terbiasa melakukan interaksi sehingga dapat mempengaruhi kepribadiannya ketika di lingkungan Bu Yurim adalah guru kelas 2 SD. Di dalam kelas Bu Yurim, Bu Yurim memiliki peserta didik dengan karakteristik yang berbeda-beda. Dalam menghadapi karakter siswa yang berbeda-beda tentunya Bu Yurim mempelajari karakter-karakter setiap anak didik sehingga dapat memudahkan Bu Yurim untuk melaksanakan pembelajaran. Perbedaan karakteristik juga akan mempengaruhi pola mengajar. Tidak semua siswa suka dengan metode mengajar Bu Yurim. Untuk mengatasi masalah tersebut, langkah awal yang dapat Bu Yurim lakukan untuk mengenali karakter siswa yaitu memahami terlebih dahulu pemahaman tentang diri sendiri Self Understanding, dan juga pemahaman tentang orang lain Under Standing the Other. Contoh, Bu Yurim memahami bahwa dirinya adalah sosok yang punya karakter apabila berbicara selalu dengan nada tinggi dan di dalam kelas terdapat beberapa siswa yang punya karakteristik yang berbeda-beda. Siswa yang berani tidak akan takut kepada Bu Yurim walaupun Bu Yurim punya karakter nada bicara tinggi ketika menjelaskan materi. Tetapi ada murid Bu Yurim yang penakut sehingga ketika Bu Yurim menjelaskan, murid Bu Yurim yang penakut berkeringat dingin ketika memperhatikan Bu Yurim saat menjelaskan. Dalam menghadapi situasi tersebut Bu Yurim harus beradaptasi, bagaimana karakter nada tinggi Bu Yurim tidak membuat rasa takut pada peserta didik yang punya karakter penakut. Dari sinilah Bu Yurim bertindak sebagai psikolog dan dokter bagi siswa tersebut yang punya karakter penakut. Langkah selanjutnya yang dilakukan Bu Yurim yaitu menanyakan kebiasaan si anak pada saat di rumah kepada orang tua si anak tersebut. Pada saat wawancara, ditemukan bahwa orang tua si anak tidak pernah berbicara dengan nada tinggi kepada si anak. Ketika Bu Yurim sudah mengetahui bahwa kebiasaan di rumah memang si anak tidak pernah kena omongan dengan nada tinggi. Sehingga langkah selanjutnya Bu Yurim beradaptasi. Ketika pulang sekolah, Bu Yurim mengajak berbicara. Bu Yurim berusaha berbicara dengan tutur kata yang pelan dan halus dengan memelankan suara, lalu menanyakan mengapa ketika Bu Yurim menjelaskan materi anak tersebut selalu ketakutan. Ketika anak tersebut sudah mulai bisa menceritakan, Bu Yurim sebagai guru harus langsung memahami dan memberi pemahaman bahwa memang suara yang dimiliki Bu yUrim memang memiliki ciri khas nada tinggi namun bukan berarti Bu Yurim marah jadi tidak usah takut. Bu Yurim dapat memberi motivasi dan memberi sugesti yang tepat serta memberikan solusi. Bu Yurim harus intensif dalam melakukan pendekatan seperti membiasakan mengajaknya berbicara ketika pembelajaran berlangsung, dan pada saat pulang sekolah ketika bersaliman dengan Bu Yurim. Bu Yurim dapat memberi senyuman dan menanyakan beberapa pertanyaan ringan seperti "pulang sekolah dijemput siapa nak?". Dari situlah akan tumbuh kedekatan antar anak didik yang awalnya punya karakter penakut bisa beradaptasi dengan karakter Bu Yurim yang mempunyai nada tinggi saat menjelaskan materi. c. Pak Sangkara adalah seorang pengajar di SD. Pak Sangkara memiliki murid yang berbeda dari murid yang lainnya. Murid Pak Sangkara yang satu ini tidak bisa membaca abjad dan angka. Pada saat ada ulangan di kelas, ia tak dapat mengerjakan karena tak bisa membaca. Sehingga Pak Sangkara sebagai guru pada saat ulangan membacakan soal ulangan dan membacakan pilihan jawaban yang tersedia. Ketika siswa tersebut telah memilih jawabannya, Pak Sangkara mengarahkan untuk memberi tanda pada jawaban yang benar. Untuk menghadapi siswa tersebut, Pak Sangkara tidak menjadi guru yang menuntut, namun membimbing. Pak Sangkara memberikan bimbingan khusus kepada siswa tersebut. Bimbingan tersebut Pak Sangkara lakukan ketika pulang sekolah. Bimbingan tersebut tak melulu perihal materi menghafal dengan membaca abjad di buku. Namun Pak Sangkara melakukan metode lain yaitu mengajak bernyanyi tentang abjad a-z dan menunjukkan visualisasi video bentuk huruf a-z. Dengan metode tersebut, anak mudah hafal. Pak Sangkara juga memberikan video tentang story telling seperti cerita anak. Hal tersebut diharapkan anak mengenal kata dan dapat menyusun abjad menjadi kata dan kalimat. Setelah sudah dirasa cukup, Pak Sangkara dapat menyuruhnya menuliskan abjad a-z di buku tulis hingga buku tulis tersebut penuh. Dan untuk benar-benar memastikan si anak sudah mengenal abjad Pak Sangkara seringkali menunjuk huruf random yang telah siswa tersebut tulis, dan Pak Sangkara menyuruh menyebutkan huruf apa yang Pak Sangkara tunjuk. Ketika sudah hafal dan tau bentuk huruf a-z, Pak Sangkara mencoba megujinya dengan metode dikte. Pak Sangkara melafalkan kata sederhana, dan ia menuliskan kata yang Pak Sangkara ucapkan lalu Pak Sangkara menyuruh anak tersebut untuk membaca tulisannya tersebut. Bimbingan tersebut dapat dilakukan secara rutin 30 menit setelah bel pulang sekolah yang dilakukan dari hari senin-jum'at. Saga mengajar di sebuah SD di Kabupaten Mojokerto. Di dalam kelas Pak Saga, siswanya memiliki kesukaan perihal warna yang beragam. Hingga suatu ketika anak didik bertengkar karena berdebat masalah warna apa yang paling bagus. Dari pertengkaran tersebut beberapa siswa ada yang membentuk sebuah geng dan mereka sering berselisih dengan temannya geng lain yang memiliki kesukaan warna yang bersebrangan. Pertengkaran tersebut juga memicu ketidakrukunan dan mereka menjadi tidak toleransi, hingga pada saat piket kelas mereka saling melempar-lempar tugas piket seperti terdapat adikuasa dimana ada kelompok geng yang menyukai warna tertentu tidak mau piket karena kelompok geng tersebut pada saat berdebat selalu menang dan dianggap kuat di kelas. Pada saat itu Pak Saga memberikan sedikit refleksi. Pak Saga memilih 4 siswa maju ke depan. 4 siswa tersebut memiliki geng, sebut saja siswa itu bernama A, B, C, dan D. Si A berteman dengan si B, mereka berdua menyukai warna merah. Dan si C berteman dengan si D, mereka berdua menyukai warna hitam. Lalu Pak Saga melontarkan pertanyaan kepada mereka "Bagaimana sikap kalian melihat kawan kalian si C dan D memiliki kesukaan warna yang berbeda dari kalian". Jawaban mereka "ya kami merasa mereka bukan teman kami bu, karena geng kami harus suka warna merah". Dari permasalahan tersebut Pak Saga mencoba menguasai permasalahan rill yang ada di kelas dan mencoba bagaimana cara mengembangkan pembelajaran toleransi agar siswa mampu mengimplementasikannya. Akhirnya Pak Saga menggunakan metode pembelajaran visual, Pak Saga mengajak mereka menonton cuplikan film "Laskar Pelangi". Dalam film tersebut Pak Saga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan karakter dan suku. Pak Saga berkata "Kalian bisa amati dalam film Laskar Pelangi yang sedang kalian tonton, mereka berbeda-beda karakter, beda suku, beda kesukaan dalam menyukai lagu, berbeda kesukaan dalam memilih pelajaran yang disukai, namun mereka tetap rukun dan mencapai cita-cita bersama". Dari situ, siswa yang berbeda kesukaan tadi mulai tumbuh rasa toleransi. Lalu langkah selanjutnya Pak Saga melakukan tindakan pemantapan pemahaman toleransi dengan cara mengadakan kerja bakti untuk membersihkan kelas dimana dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut diperlukan kegiatan tolong Pak Eyden adalah guru di SD. Pak Eyden menyadari bahwa di dalam kelasnya siswanya tidak selalu cepat dalam menangkap suatu pembelajaran. Ada juga yang lamban. Pada saat itu pada materi perkalian Pak Eyden memahami bahwa dalam satu kelas terdapat siswa yang sukar ketika belajar matematika. Sehingga Pak Eyden mengadakan beberapa metode belajar untuk membangkitkan semangat para murid yang tidak bisa perkalian. Pada saat itu Pak Eyden mengadakan bimbingan jadi 4 tahap yaitu sesi belajar kelompok, les khusus, evaluasi dan motivasi. Pak Eyden mengajarkan jarimatika lalu Pak Eyden suguhi soal tentang perkalian untuk dikerjakan. Pak Eyden ikut mendampingi ketika menyelesaikan soal yang Pak Eyden berikan. Untuk menguatkan pemahaman perkalian, Pak Eyden mengajak menyanyikan lagu perkalian. Selanjutnya evaluasi yaitu dengan mengadakan kuis sebelum pulang sekolah, bagi yang belum bisa ketika diberi kuis perkalian, siswa wajib ikut les khusus belajar perkalian setelah pulang sekolah selama 30 menit. Pak Eyden juga memberi motivasi bagi siswa yang tak bisa perkalian agar siswa tersebut semangat dan tidak merasa minder sehingga terdapat kemauan belajar yang tinggi dapat terus tumbuh. Semua bimbingan tersebut dilakukan agar siswa yang memiliki kekurangan dalam proses belajar mata pelajaran matematika bisa mengejar teman-temannya yang sudah beberapa contoh kendala yang diakibatkan keragaman siswa dan bagaimana sikap guru dalam menghadapi/mengatasi masalah/kendala yang terbentuk akibat keragaman ketika melakukan proses belajar mengajar dalam menghadapi keragaman dari peserta didik di dalam kelas di atas, dapat disimpulkan bahwa guru bertanggung jawab atas masalah yang timbul akibat dari keragaman tersebut. Guru dituntut untuk memiliki pandangan yang lebih luas dan dapat melihat masing-masing siswa dari sudut pandang siswa tersebut sehingga tidak ada unsur judgment. Selain itu guru dituntut agar dapat mengenali karakter siswa agar dapat membimbing anak tersebut dalam mencapai kesuksesan belajar. Lihat Pendidikan Selengkapnya
Dimanapun kamu berada pasti akan bertemu dengan yang namanya perbedaan termasuk di sekolah. Setiap sekolah pasti memiliki banyak siswa dengan latar belakang yang berbeda. Perbedaan ini justru bisa menjadi sarana untuk membentuk persatuan yang kuat dan bukan malah menjadi kelemahan. Untuk itulah kamu harus belajar menghargai keragaman di kelas. . 7 Cara Menghargai Keragaman di Kelas Inilah beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk menghargai keberagaman di kelas 1. Saling Menghormati Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda sehingga kamu harus belajar menghormati atau menghargai perbedaan tersebut. Dalam satu kelas terdiri dari beberapa siswa yang satu sama lain memiliki perbedaan, baik itu perbedaan suku, agama, ras, maupun fisik. Supaya bisa hidup berdampingan dengan teman satu kelas maka harus saling menghormati perbedaan-perbedaan tersebut. Contoh sikap saling menghormati adalah tidak mencela warna kulit ataupun bentuk tubuh orang lain, tidak menjelekkan agama tertentu dan masih banyak lagi. 2. Mau Berteman dengan Siapa Saja Meskipun memiliki banyak perbedaan dengan teman satu kelas, kamu harus tetap menjalin relasi dengan siapa saja. Dalam menjalin pertemanan tidak perlu membeda-bedakan. kamu tidak boleh hanya berteman dengan mereka yang memiliki agama sama, suku yang sama atau memiliki status sosial yang sama. Supaya memiliki banyak teman maka kamu harus berteman dengan siapa saja. 3. Saling Tolong Menolong Sebagai makhluk sosial, manusia pasti membutuhkan orang lain. oleh karena itu, sesama manusia harus saling tolong menolong. Pada saat tertimpa musibah atau terkena masalah, kamu bisa meminta bantuan siapa saja, begitupun sebaliknya. Jika ingin menolong orang lain. kamu tidak boleh memilih-milih. Kapan saja harus siap menolong teman sekelas jika dimintai pertolongan. 4. Mendengar Orang Lain Ketika Berbicara Cara menghargai keberagaman di kelas adalah selalu mendengar orang lain ketika berbicara tanpa memotong pembicaraan. Siapapun teman di kelas yang sedang berbicara sebaiknya harus didengarkan, meski teman yang berbicara berbeda dengan kamu. Jika tidak didengarkan, teman yang berbicara bisa berkecil hati dan kecewa. 5. Tidak Mengganggu Orang Lain yang Sedang Beribadah Ada 6 agama yang diakui di Indonesia. Dimana masing-masing agama tersebut memiliki cara beribadah yang berbeda. Dimana semua orang memiliki hak untuk beribadah dengan aman dan nyaman. Oleh karena itu, meskipun berbeda tetapi kamu harus membebaskan umat agama lain untuk melakukan ibadah. Jangan sekali-kali mengganggu orang lain yang sedang beribadah. Perilaku ini tidak hanya tercela tetapi juga menunjukkan jika kamu tidak menghormati umat agama lainnya. 6. Selalu Berbicara dengan Sopan dan Santun Berbicara dengan sopan dan santun tidak hanya dilakukan ketika berkomunikasi dengan guru saja. Tetapi hal ini juga dilakukan ketika berbicara dengan orang lain. Jangan karena berbeda kamu bisa berbicara tidak sopan dengan orang lain. Setiap kalimat yang diucapkan harus dipikirkan supaya tidak menyakiti orang lain. 7. Mengutamakan Kepentingan Umum daripada Kelompok atau Pribadi Cara menghargai keberagaman yang bisa kamu lakukan yaitu dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan kelompok maupun pribadi. Jika mengutamakan kepentingan pribadi maka kamu terlihat sangat egois. Hal ini berarti dalam memecahkan suatu masalah atau membuat keputusan sebaiknya berdasarkan hasil musyawarah. Musyawarah yang dilakukan harus menjunjung tinggi kebutuhan banyak orang sehingga keputusan yang diambil merupakan kepentingan umum. Nah itulah 7 cara menghargai keragaman di kelas. Keberagaman yang ada di kelas harus bisa menciptakan persatuan dan kesatuan supaya menjadi lebih kompak. Jika tidak bisa menghargai perbedaan maka tidak akan bisa hidup rukun. Salah satu sekolah yang juga menjalankan praktek hidup rukun di tengah keragaman yang ada adalah SMA Dwiwarna boarding school. Dengan bersekolah disini kamu akan bertemu banyak sekali siswa siswi dari latar belakang dan asal daerah yang berbeda. SMA Dwiwarna boarding school juga memiliki kualitas pendidikan dan fasilitas yang baik sehingga semua siswa siswi bisa meraih prestasi terbaiknya dengan maksimal.
- Keberagaman dapat ditemui di lingkungan sekitar kita, termasuk lingkungan sekolah. Keberagaman mempunyai sejumlah manfaat. Salah satunya menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan. Menurut Yulianti dan Dinie Anggraeni Dewi dalam jurnal Penanaman Nilai Toleransi dan Keberagaman Suku Bangsa Siswa Sekolah Dasar melalui Pendidikan Kewarganegaraan 2021, keberagaman adalah kondisi kelompok masyarakat yang memiliki perbedaan suku, agama, ras, serta kehidupan manusia, keberagaman merupakan kekayaan dan keindahan yang harus dijaga serta dirawat keberlangsungannya. Dikutip dari buku Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran Disesuaikan dengan Kurikulum 2013 Edisi Kedua 2013 karya Muhammad Yaumi, keberagaman harus dijunjung tinggi dan persatuan harus ditingkatkan. Karena keberagaman dapat membuat kelompok masyarakat menjadi jauh lebih kuat. Baca juga Manfaat Keberagaman Budaya bagi Suatu Bangsa Contoh memanfaatkan keberagaman Ada banyak manfaat keberagaman di lingkungan sekolah, yakni menumbuhkan persatuan dan kesatuan, menumbuhkan sikap toleransi, belajar menghormati dan menghargai antarwarga sekolah, serta belajar mengutamakan kepentingan contoh rencana untuk memanfaatkan keberagaman antarwarga sekolah untuk masa yang akan datang, yaitu Contoh 1 Agar bisa memanfaatkan keberagaman antar warga sekolah, saya akan berusaha untuk lebih menghormati dan menghargai orang lain di lingkungan sekolah, seperti guru, teman, dan karyawan. Saya mau berteman dengan siapa saja tanpa harus melihat perbedaan agama, suku, ras, maupun keadaan ekonomi. Saya akan menghormati serta bersikap sopan kepada guru dan karyawan. Baca juga Contoh Keberagaman di Rumah dan Cara Menyikapinya Contoh 2 Agar bisa memanfaatkan keberagaman antar warga sekolah, saya akan berusaha melatih sikap toleransi terhadap teman. Caranya dengan menghormati dan menghargai kebudayaan, agama, dan bahasa daerah. Contohnya saya akan menghormati teman yang sedang beribadah atau menjalankan kewajiban agamanya. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
- Saat ini, seringkali anak tidak suka dengan temannya hanya gara-gara perbedaan. Perbedaan ini bisa dicontohkan karena beda warna kulit atau hal-hal tak menghargai perbedaan dan keragaman bisa terjadi pada anak-anak kita. Karena itulah menjadi kewajiban orangtua untuk membimbingnya. Sebagai warga negara Indonesia, kita sudah terbiasa dan seharusnya hidup dalam keragaman. Baik keragaman agama, adat istiadat, suku, budaya, dan bahasa. Karena itu, penting sekali mengenalkan anak pada keragaman yang dapat dimulai sejak usia dini. Baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah. Baca juga Hasil Survei Berikut 3 Masalah Orangtua Dampingi Anak BDRAda beberapa cara atau tips yang bisa dilakukan orangtua untuk melatih agar anak menghormati perbedaan dan keragaman dalam lingkungan. Melansir laman Sahabat Keluarga Kemendikbud, berikut ini tipsnya 1. Ajak bersosialisasi Orang tua harus mengajak anak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Bersosialisasi bisa di sekolah maupun di rumah. Beri kebebasan kepada anak untuk berteman dengan siapapun tanpa memandang agama, suku maupun ras. Berkomunikasilah dengan guru tentang perkembangan sosial anak di sekolah. Ajak anak bersosialisasi dengan lingkungan di rumah dengan cara mengundang anak-anak di sekitar rumah untuk bermain ke rumah atau sebaliknya. Ini akan membawa dampak pada perkembangan sosial anak. 2. Berpikir kritis
Ilustrasi keragaman karakteristik di sekolah. Foto satu manfaat dari keragaman karakteristik di sekolah adalah timbulnya rasa saling menghargai. Sekolah merupakan tempat menuntut ilmu yang terdiri dari individu yang beraneka sekolah tentunya siswa memiliki perbedaan baik itu dari segi karakteristik sampai dengan kehidupan sosial budaya. Individu akan menghadapi perbedaan yang tentunya dapat membuat pengalaman hidup mereka lebih berwarna. Keragaman ini tidak melulu akan menimbulkan perselisihan. Justru akan banyak hal-hal positif yang bisa didapatkan ketika siswa menuntut ilmu di sekolah. Lantas apa saja manfaat dari keragaman karakteristik di sekolah bagi dirimu?Mengajarkan Menghargai Sebuah PerbedaanSiswa yang baik pastinya akan menghargai perbedaan budaya, suku, ras, dan agama. Sikap toleransi harus ditanamkan sejak kecil agar terbiasa saat dewasa di wilayah sekolah yang memiliki karateristik individu yang berbeda, siswa harus bisa saling menghargai perbedaan yang dimiliki temannya. Apabila perbedaan tersebut bisa ditolerir, pasti akan tercipta kerukunan dan kebersamaan yang harmonis. Ilustrasi keragaman karakteristik di sekolah. Foto Persatuan dan Kesatuan Keragaman karakteristik individu adalah salah satu bentuk sarana untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan. Hal ini tentunya akan baik jika dipupuk saat menimba ilmu di sekolah. Di sekolah kita diajarkan bekerja bersama kelompok, memecahkan masalah dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Meskipun memiliki perbedaan karakteristik, di sini lah siswa dan teman-temannya akan berkolaborasi dan bersatu supaya masalah dapat diselesaikan. Berteman Tanpa MemilihAdanya keragaman membuat setiap siswa akan lebih mudah untuk berteman dengan yang lain walaupun terdapat perbedaan. Perbedaan ini akan membuat pertemanan mereka di sekolahan menjadi lebih berwarna tanpa harus memilih-milih. Tanpa memandang latar belakang dan karakteristik individu dalam sekolah, siswa justru akan merasa senang jika memiliki teman yang berbeda-beda. Teman yang beragam ini justru akan menambah pengalaman mereka. Dari sini lah mereka akan mendapatkan pelajaran yang belum pernah didapatkan sebelumnya. Mampu Menyelesaikan Konflik secara KekeluargaanMeskipun terkadang konflik tidak dapat terhindarkan, justru perbedaan ini mampu menyatukan individu di dalam sekolah. Karakteristik individu yang berbeda pada siswa akan menjadi tantangan tersendiri saat siswa berusaha menyelesaikan konflik tersebut. Keakraban dan rasa kekeluargaan akan tercipta setelah konflik berakhir.
bagaimana para siswa memanfaatkan keragaman yang mereka miliki